Tuesday, 28 April 2015

IF I HAVE MORE TIME

KALAU SAJA AKU PUNYA WAKTU

Aku punya berbagai impian ditempat tersembunyi dan cadangan senyum untuk saat-saat murung (Anonim)

Terkadang apa yang awalnya tampak sebagai peristiwa negatif beralih menjadi suatu peluang untuk mencoba sesuatu yang baru yang selama ini ingin kita lakukan .Aku mempunyai pekerjaan yang sempurna . "Sempurna" bagiku: pekerjaan paruh waktu dan lentur. Bos memperbolehkan aku mengatur pekerjaan diseputar jadwal sekolah anak-anak. Jadi aku bisa keluar dari rumah, bergaul dengan orang-orang dewasa dan sebagai bonus aku menghasilkan banyak uang untuk membantu membayar tagihan dan memberi sedikit uang untuk bersenang-senang kepada keluarga.
Segala sesuatunya menyenangkan, lalu krisis ekonomi datang menghantam, seperti semua perusahaan lain, perusahanku mulai merasa terjepit. Perusahaan kami mengkhususkan diri pada rapat-rapat besar perusahaan; begitu ekonomi menurun hal besar pertama yang disingkirkan oleh klien kami adalah rapat besar perusahaannya.
pada awalnya perusahaan bersiteguh mempertahankan kami. Beberapa bulan kemudian dua pegawai dilepaskan, tetapi perusahaan meneguhkan sisa pegawai
bahwa mereka tidak berniat melepaskan siapapun lagi.
Tidak ada yang percaya pada mereka. Terutama aku. Hanya soal waktu sebelum pihak manajemen memutuskan bahwa mereka tidak akan membutuhkan "Gadis kantor" paruh waktu dikantor cabang mereka. Setiap hari aku berangkat kerja dan mempersiapkan diri mendengar kata-kata "Kau dipecat".
Setelah satu bulan dalam ketidakpastian, pada akhirnya hari itu tiba. Aku berjalan memasuki kantor dan menemukan bosku dan bos wilayah sedang berkumpul, begitu mereka mengundangku keruang rapat aku tahu apa yang akan terjadi.
Meski mereka berdua bersikap manis dan pemecatan itu tidak terlalu mengejutkan, aku dikejutkan oleh perasaan kehilanganku . Aku telah bekerja dibeberapa jenis pekerjaan sejak berusia enam belas tahun. Aku bekerja setiap kali setelah melahirkan. kerja adalah bagian dari identitasku--apa yang akan kulakukan sekarang?
Aku menangis dalam perjalanan pulang dan menghabiskna beberapa ahri dengan berduka, kemudian sektar seminggu kemudian aku mulai melihat sesuatu yang positif dari situasi ini. Tentu saja aku senang bekerja dan membutuhkan tambahan uang, tetapi saat ini adalah peluang bagiku unutk rileks.
seperti kebanyakan perempuan kau menghabiskan sebagian besar hidupku berfulat antara pekerjaan dan rumah. Sekarang ada akhirnya aku bisa meikmati diriku. Siapa yang tidks mempunyai daftar dari hal-hal yang akan dilakukan "Kalau saja aku punya waktu", tentu saja aku memilikinya.
Aku bisa meluangkan waktu dengan ibuku yang baru pensiun. Kami bisa jalan-jalan sekedar menikmati makan siang yang panjang dan penuh tawa, sesuatu yang sudah lama tidak kami lakukan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Selain itu,ada sesuatu lain sebuah pertanyaan mengusik. Apa yang akan terjadi jika aku menulis penuh waktu?
Selama dua bulan terakhir. Aku mulai menulis disela-sela diantara semua kesibukan.Aku bertanya-tanya, jika diberi kesempatan .Bisakah aku menjadikan menulis sebagai karier pekerjaan penuh waktu?
Aku mengakui aku gugup . Siapa sih aku, yang berani berfikir untuk menjadi penulis penuh waktu? Beberapa artikelku memang telah terbit dikoran setempat , tetapi apakan ini bisa diartikan sebagain pekerjaan yang sesungguhnya?
Aku terus bergumul dengan gagasan itu,penuh dengan keraguan. tetapi kemudian aku ingat dengan sepotong nasihat yang pernah kubaca
"Kau harus berpura-pura sampai kau berhasil".
Terkadanga aku ingin menyerah , tetapi tidak kulakukan .aku terus berusaha .Aku juga jauh lebih bahagia dan masih menemukan banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang tertera didalam daftar "KALAU SAJA AKU PUNYA WAKTU".

[~Jennifer Flaten,Ditulis ulang dari buku Chicken soup For the soul]

No comments:

Post a Comment